Sabtu, 18 April 2020

PENGENALAN KARAKTER KEYOGYAKARTAAN DALAM PENDEKATAN MUTIKULTURAL





Oleh:
Nurhidayati; Sri Harti Widyastuti; Afendy Widayat; Margana
nurhidayati@uny.ac.id


        Yogyakarta sebagai kota pelajar juga menjadi ikon sebagai kota budaya. Dalam bidang penyelenggaraan pendidikan, pemerintah DIY juga mencanangkan pola-pola penerapan nilai-nilai luhur budaya dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang diatur dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 68 tahun 2012. Peraturan ini meregulasi pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mencanangkan penyelenggaraan pendidikan berbasis budaya. Pengelolaan pendidikan daerah dilaksanakan berdasarkan sistem pendidikan nasional dengan menjunjung  tinggi nilai-nilai luhur budaya. Salah satu bentuk implementasi regulasi ini di UNY telah dikembangkan berbagai produk sebagai media pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai luhur budaya Jawa di Yogyakarta. Upaya pelestarian dan pengembangan budaya Yogyakarta dalam bentuk pengembangan media pendidikan karakter Keyogyakartaan sejalan dengan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2013 pasal 3 menyebutkan tentang pengaturan kebudayaan yang bertujuan untuk melindungi, memelihara, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan sehingga memperkuat karakter dan identitas sebagai jadi diri masyakarat DIY.
Pengembangan media pendidikan karakter keyogyakartaan di lingkungan UNY merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan manajemen layanan publik yang berbasis kearifan lokal. Universitas Negeri Yogyakarta sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta mengemas pendidikan karakter yang diimplementasikan dengan pembiasaan menggunakan bahasa Jawa sebagai sarana berkomunikasi dalam pelayanan akademik, rapat, dan kebutuhan berinteraksi di lingkungan kampus.  Penggunaan bahasa Jawa dalam hal ini ditekankan pada penggunaan unsur hormat dalam ungkapan fungsional untuk menunjukkan kesantunan berbahasa dalam bentuk campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Hal ini dilakukan karena civitas akademika UNY tidak hanya berasal dari suku Jawa, namun dari berbagai suku di Indonesia bahkan dari manca negara. Dengan demikian, penggunaan campur kode sebagai bentuk pengenalan budaya Jawa di lingkungan UNY tetap mewadahi unsur multikultural.



PELESTARIAN BUDAYA JAWA MELALUI LAGU DOLANAN



image: kissparry.blogspot.com


Oleh: 
Nurhidayati FBS UNY


     Abstrak
Usaha pewarisan dan pelestarian budaya Jawa secara turun- temurun dalam masyarakat Jawa melalui wejangan, piwulang, dan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai petuah dan nasihat tentang keluhuran dalam budaya Jawa dalam mengarungi kehidupan salah satunya digubah dalam seni tembang. Seni tembang yang dekat dengan kehidupan anak-anak yaitu lagu dolanan. Lagu dolanan merupakan bagian dari tembang Jawa yang dalam melagukannya diiringi dengan permainan. Hal inilah yang menjadikan lagu dolanan sangat digemari oleh anak-anak.
Lagu  dolanan sebagai salah satu wujud budaya Jawa yang adiluhung dijadikan sarana menyampaikan wejangan atau ajaran pada anak. Lagu dolanan pada masyarakat Jawa mengandung ajaran tentang perilaku luhur yang dapat digunakan sebagai sarana membentuk perilaku pada anak. Proses yang berlangsung dalam pembentukkan perilaku tersebut seiring dengan dunia anak bermain, sehingga anak tidak merasa tertekan atau dipaksakan. Meskipun demikian, keluarga dan orang-orang sekitar berperan penting dalam rangka memberikan penguatan pada terbentuknya karakter pada anak. Perilaku yang dapat dibentuk melalui lagu tersebut antara lain: bertanggung jawab, kejujuran, disiplin, rajin bekerja, solidaritas, keadilan, keberanian, sportif, kemandirian, berdaya juang, kasih sayang, penghargaan terhadap alam semesta dan religiusitas. Lagu dolanan dalam budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat Jawa dapat digunakan: (1) mengajarkan berperilaku yang sesuai dengan budaya Jawa (2) mengajarkan inventarisasi nama kembang, makanan, dan rumah; (3) menggambarkan peradapan kehidupan pedesaan; dan (4) menggambarkan karakteristik hewan.

Kata kunci: Pelestarian Budaya; Lagu Dolanan
B. Latar Belakang
Budaya suatu bangsa mencerminkan peradapan kehidupan masyarakatnya. Budaya Jawa sebagai salah satu kekayaan budaya daerah di Indonesia mencerminkan peradapan kehidupan masyarakat Jawa. Budaya Jawa memiliki berbagai karya yang mencerminkan pemikiran, perilaku, aturan, dan tuntunan dalam menjalani kehidupan baik secara individu maupun sosial. Tatanan kehidupan dalam budaya Jawa tersebut mengandung nilai-nilai luhur sehingga budaya Jawa merupakan budaya yang adi luhung.
Budaya Jawa pada masa sekarang sudah banyak mengalami pergeseran akibat adanya arus globalisasi. Masyarakat khususnya generasi muda banyak yang menilai bahwa tatanan kehidupan dalam budaya Jawa dinilai sudah kuna tidak modern. Lebih lanjut lagi, nilai-nilai luhur tersebut banyak yang sudah tidak dipahami atau tidak dimiliki lagi oleh para generasi muda. Nilai-nilai luhur tersebut salah satunya terdapat dalam lagu dolanan. Adanya krisis nilai-nilai luhur pada masa sekarang, merupakan salah satu hal yang mendorong untuk membahas pelestarian budaya melalui lagu dolanan dalam masyarakat Jawa.

C. Pengertian Budaya
Budaya menurut Bastomi (1991: 1) termasuk ke dalam perbendaharaan bahasa Jawa yang berasal dari “budi” dan “daya”. Kata “budi” berarti akal atau nalar. Kata “budi” dalam bahasa Jawa sering dirangkaikan dengan kata “akal” sehingga menjadi “akal budi”, artinya kepandaian. Kata “budi” dalam bahasa Jawa juga berarti watak, misalnya pada kata-kata: “wong iku bebudene becik” artinya orang itu wataknya baik. Selanjutnya, kata “daya” berarti tenaga atau kekuatan. Kata “daya” sering dirangkaikan dengan kata “upaya” sehingga menjadi “daya upaya”, artinya usaha untuk mencapai sesuatu. Apabila kata “budi” dan “daya” dirangkaikan menjadi “budi daya” dalam bahasa Jawa sepadan dengan “pambudi daya”, artinya kekuatan akal manusia mencapai suatu hasil dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kata budaya menurut Koentjaraningrat (1974: 19) berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”. Kata “budhayah” merupakan bentuk jamak dari “budhi” yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan berarti hal-hal yang berhubungan dengan akal atau budi yang merupakan buah usaha manusia.

C. Pelestarian Budaya Jawa melalui Lagu Dolanan
Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan didasarkan pada penalaran, kesengajaan dan pandangan hidup orangnya. Kebudayaan bersifat dinamis, karena kebudayaan peka terhadap perubahan. Kebudayaan berubah-ubah dari generasi ke generasi. Kebudayaan dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bentuk pendidikan baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Hal tersebut juga nampak pada kebudayaan Jawa yang pada saat sekarang sudah mulai mengalami perubahan. Hal inilah kemudian yang mendasari pewarisan dan pelestarian budaya secara formal dengan memasukkan budaya Jawa sebagai materi dalam muatan lokal wajib pembelajaran bahasa Jawa dari TK, SD, SMP, SMA/SMK/MA,  hingga perguruan tinggi.
Usaha pewarisan dan pelestarian budaya secara turun- temurun juga masih dilakukan terutama dalam lingkungan keluarga Jawa dan masyarakat Jawa pada umumnya. Usaha pewarisan tersebut melalui wejangan, piwulang, dan pendidikan baik secara langsung maupun dalam bentuk seni. Salah satu bentuk seni yang digunakan dalam keluarga dan masyarakat Jawa yaitu seni tembang. Berbagai petuah dan nasihat tentang keluhuran dalam budaya Jawa dalam mengarungi kehidupan di gubah dalam seni tembang. Seni tembang yang dekat dengan kehidupan anak-anak yaitu lagu dolanan. Lagu dolanan merupakan bagian dari tembang Jawa yang dalam melagukannya diiringi dengan permainan. Hal inilah yang menjadikan lagu dolanan sangat digemari oleh anak-anak.
Kebudayaan menurut Bastomi (1991: 5) dapat dianggap sebagai “way of life” atau suatu sikap hidup dengan segala aspeknya. Sikap hidup tersebut tercermin dalam kehidupan masyarakat yang mendudukkan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan demikian kebudayaan merupakan suatu sistem atau nilai dalam masyarakat. Sistem atau nilai tersebut membentuk sikap mental atau pola pikir dan tingkah laku sehari-hari.
Pelestarian berbagai sistem atau nilai dalam budaya Jawa salah satunya juga dikemas dalam lagu dolanan anak. Hal tersebut dilakukan agar sistem nilai yang mengatur kehidupan manusia Jawa tetap lestari bagi generasi berikutnya. Penggunaan lagu dolanan sebagai media penyampaian sistem nilai dalam budaya Jawa membuat anak tidak merasa dibebani dan digurui. Anak akan mengadopsi berbagai sistem nilai itu menjadi perilakusehari-hari yang dimulai sejak usia dini. Hal tersebut merupakan usaha agar nilai-nilai yang tertanam dapat mengakar lebih kuat dalam kepribadian anak.
Pelestarian kebudayaan dalam berbagai sistem secara umum menurut Sujamto (1992: 21) meliputi ketujuh unsur, yaitu: (a) religi dan upacara keagamaan; (b) organisasi kemasyarakatan; (c) sistem pengetahuan; (d) bahasa; (e) kesenian; (f) mata pencaharian hidup atau ekonomi; dan (g) sistem teknologi. Pelestarian terhadap budaya Jawa secara langsung juga meliputi pelestarian ketujuh unsur tersebut. Upaya pelestarian budaya Jawa sesungguhnya bagian dari pemertahanan bahasa Jawa. Dengan demikian, pelestarian budaya Jawa melalui lagu dolanan juga akan memperkasa bahasa Jawa.

D. Lagu Dolanan dalam Masyarakat Jawa
Lagu dalonan merupakan salah satu wujud dari budaya Jawa yang adi luhung. Lagu dolanan pada masyarakat Jawa dalam melagukannya disertai dengan suatu permainan, sehingga lagu dolanan sering juga dikelompokkan ke dalam permainan tradisional Jawa. Overbeck (dalam Parwatri, 2004: 119) membagi permainan anak-anak Jawa berdasarkan bentuk dan sifatnya menjadi empat golongan, yaitu:
1. Gewone Spelen (Permainan biasa)
2. Liederen (Nyanyian)
3. Ni Thowok en Verwante Spelen (Ni Thowok dan permainan sejenisnya)
4. Biologeerspelen (Permainan sihir)
Permainan-permainan tersebut sudah sulit ditemukan pada masa sekarang. Permainan yang masih digunakan oleh anak-anak Jawa meskipun frekwensinya sedikit, yaitu permainan biasa dan nyanyian. Kedua jenis permainan tersebut sekarang sudah mulai tergeser oleh permainan modern seperti video game, play station, game on line, game watch, dan sebagainya. Permainan yang tergolong dalam permainan biasa yaitu berupa gerakan atau perilaku anak-anak yang mengandung unsur olahraganya, seperti permainan kasti, benthik, gobag sodor, engklek, egrang, dan sebagainya. Nama permainan tersebut terkadang hanya menyebutkan benda atau alat yang digunakan untuk bermain, seperti: egrang, dakon, bedhil-bedhilan, benthik, montor-montoran, dan sebagainya.
Permainan yang tergolong nyanyian merupakan permainan yang berupa gerakan atau perilaku disertai nyanyian. Lagu yang dinyanyikan dalam permainan tersebut disebut lagu dolanan. Adapun lagu dolanan yang sering digunakan dalam permainan tersebut, yaitu: cublak-cublak suweng, sluku-sluku bathok, jamuran, gula-ganthi, jaranan, dan sebagainya. Lagu dolanan juga ada yang hanya dinyanyikan saja, tidak dikombinasikan dengan permainan, seperti: bebek adus kali, oh adhiku, menthok-menthok, dan sebagianya.
Lagu dolanan anak mengandung ajaran tentang perilaku luhur yang dikemas dalam bentuk tembang ataupun dikombinasikan ke dalam permainan. Pada saat anak melagukan ataupun memainkan permainan dengan lagu dolanan tersebut maka anak tanpa rasa tertekan dapat mengadopsi berbagai ajaran tersebut. Jika ajaran-ajaran tersebut sudah teradopsi maka perilaku anakpun lambat laun terbentuk tanpa tekanan ataupun paksaan. Suasana yang menyenangkan dalam permainan mendukung proses adopsi ajaran-ajaran luhur dalam budaya Jawa dalam diri anak. Hal tersebut tentu saja memerlukan penguatan dari keluarga dan orang-arang disekitarnya agar ajaran-ajaran tersebut menjadi bagian dari perilaku anak. Pewarisan  budaya pada anak merupakan suatu proses yang tidak mudah. Anak tidak boleh merasa tertekan dalam menyerap berbagai ajaran yang nantinya menjadi bagian karakter kepribadiannya. Untuk itu, diperlukan sarana yang menyenangkan untuk mengenalkan dan membina berbagai perilaku yang bersumber dari berbagai ajaran luhur agar dapat menjadi bagian dari diri anak. Sarana tersebut salah satunya berupa lagu dolanan anak.
Relevansi permaian sebagai sarana mendidik pada anak juga diungkapkan oleh Suyatno (2005: 14) bahwa permainan jika dimanfaatkan secara baik, dapat memberikan dampak yang positif dalam mendidik anak. Adapun unsur positif dari penggunaan permainan dalam mendidik anak, antara lain:
1. Menyingkirkan keseriusan yang menghambat
2. Menghilangkan stress dalam lingkungan belajar
3. Mengajak orang lain terlibat penuh
4. Meningkatkan proses belajar
5. Membangun kreatifitas diri
6. Mencapai tujuan dengan kesenangan
7. Meraih makna belajar melalui pengalaman
8. Memfokuskan siswa sebagai sumber belajar
Lebih lanjut Suyatno (2005: 15) menyebutkan bahwa rambu-rambu agar permainan dapat menjadi efektif dan mempunyai nilai tambah dalam mendidik anak, yaitu:
1. Permainan harus terkait langsung dengan tempat belajar
2. Permainan harus dikemas agar dapat mengajari pembelajar berfikir, mengakses informasi, bereaksi, memahami, berkembang, dan menciptakan nilai nyata bagi siswa
3. Permainan harus memberi kebebasan kepada siswa untuk bekerjasama dan berkreasi
4. Permainan harus menarik dan menantang, namun jangan sampai membuat siswa kecewa dan kehilangan  akal
5. Permainan harus menyediakan waktu yang cukup untuk merenung, memberi umpan balik, berdialog dan berintegrasi dengan siswa
6. Permainan hendaklah sangat menyenangkan dan mengasyikkan, namun jangan sampai membuat siswa tampak bodoh dan dangkal.
Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa lagu dolanan yang mengandung ajaran tentang perilaku luhur dapat digunakan sebagai sarana mewariskan nilai budaya Jawa pada anak. Proses yang berlangsung dalam usaha mewariskan nilai tersebut seiring dengan dunia anak bermain, sehingga anak tidak merasa tertekan atau dipaksakan. Meskipun demikian, keluarga dan orang-orang sekitar berperan penting dalam rangka memberikan penguatan pada terbentuknya nilai pada anak.
Media yang digunakan untuk menggubah lagu dolanan adalah bahasa. Semakin sering anak memainkan lagu dolanan tersebut maka anak semakin banyak mendapatkan perbendaharaan kata sekaligus penggunaannya tanpa rasa terbebani. Dengan demikian, penguasaan bahasa anak juga akan meningkat. Lagu dolanan dalam hal ini dapat dijadikan sarana mempertahankan bahasa Jawa sejak usia dini.

E. Budaya Jawa yang Dilestarikan melalui Lagu Dolanan
1. Penanaman Perilaku yang sesuai dengan Nilai Budaya Jawa
a.  Lagu Cublak-cublak Suweng
Lagu Cublak-cublak Suweng merupakan lagu dolanan yang disertai permainan dengan cara sebagai berikut:
1. Permainan ini beranggotakan minimal tiga anak, dengan peran: pemimpin, anak yang “dadi = jadi”, dan satu sebagai teman main.
2. Seorang anak yang “dadi” tengkurap
3. Salah satu temannya memimpin permainan dengan cara mengedarkan suweng (di simbolkan oleh batu kerikil) ke atas telapak tangan teman- teman lainnya yang terbuka di atas punggung anak yang “dadi”. Pemutaran kerikil tersebut disertai dengan bernyanyi bersama-sama melagukan Cublak- cublak Suweng. Anak yang “dadi” harus berpikir dan mewaspadai pemutaran kerikil agar dapat menebak yang menggenggamnya dengan tepat.
4. Setelah beberapa putaran, kerikil diserahkan kepada salah seorang anak agar disembunyikan digenggamannya.
5. Anak yang “dadi” harus menebak siapa yang menyimpan kerikil pada saat lirik sir- sir pong dhele kopong sir- sir pong dhele kopong.
6. Apabila tebakannya meleset maka anak tersebut harus “dadi” lagi. Apabila tebakannya tepat maka anak yang memegang kerikil tersebut yang harus menggantikan posisi “dadi”.

Adapun teks lagu donanan Cublak-cublak Suweng adalah sebagai berikut.

Cublak-cublak suweng   
image: solopos.com
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundhung gudel
Pak empong lera-lere
Sapa ngguyu ndhelikake
Sir-sir pong dhele kopong
Sir-sir pong dhele kopong

Artinya:
Cublak ‘tempat minyak wangi’ (dan) subang
Subangnya berserakan
Bau anak sapi yang diusir
Pak empong sudah ompong kalau makan makanannya kesana kemari
Siapa yang tertawa dia yang menyembunyikan
Sir-sir pong kedelai yang tidak bernas
Sir-sir pong kedelai yang tidak bernas

Permainan dalam lagu dolanan tersebut mengandung unsur penanaman nilai budaya Jawa pada anak agar berperilaku: bertanggung jawab, waspada, jujur, berani, sportif dan adil. Nilai bertanggung jawab ditanamkan dalam permainan Cublak-cublak suweng yaitu setiap peserta mampu menjalankan setiap peran sesuai dengan aturan main dalam permainan. Seorang anak yang menjadi pemimpin, dia harus menjalankan tugasnya untuk memimpin jalannya permainan tersebut. Seorang anak yang “dadi”, dia harus bersedia tengkurap, dan menebak dengan cermat siapa yang menggenggam kerikil. Teman main yang lain, harus dapat menyembunyikan dan menggenggam kerikil dengan baik agar sulit diketahui oleh anak yang “dadi”. Terlaksananya berbagai peran dalam permainan tersebut merupakan bagian dari pembentukkan nilai bertanggung jawab.
Nilai kewaspadaan juga dibina melalui permainan cublak-cublak suweng. Anak yang menjadi pemimpin dan teman mainnya harus waspada agar kerikil yang digenggam tidak diketahui oleh anak yang “dadi”. Sikap dan gelagat saat proses tebakan tidak boleh ceroboh dan mencurigakan. Anak yang “dadi” harus waspada mengikuti gerakan putaran kerikil di punggungnya, mencermati saat kerikil diberikan pada teman mainnya agar tebakkannya tidak meleset.
Nilai kejujuran dibentuk pada saat tebakan siapa yang menggennggam kerikil. Anak yang dadi menebak siapa yang membawa kerikil. Anak yang membawa harus jujur mengakui jika tebakkannya tepat. Nilai keberanian dan sportif juga terbina bersamaan dengan nilai kejujuran. Hal tersebut dapat dicermati pada saat anak yang “dadi” menebak, maka jika tebakkan benar anak yang membawa kerikil harus sportif dan berani mengganggantikan posisi “dadi”. Anak yang “dadi” juga harus sportif dan berani untuk berperan sebagai “dadi” lagi apabila tebakkannya tidak tepat. Nilai mengenai berdaya juang juga dapat terbina terutama bagi anak yang “dadi”, apabila tebakkannya berkali-kali meleset maka dia harus berkali-kali tengkurap dan berperan “dadi”. Nilai berdaya juang sangat diperlukan agar anak mempunyai jiwa yang kuat, tidak rapuh, dan mudah putus asa.
  Nilai keadilan juga dapat terbentuk melalui permainan tersebut. Setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama dalam permainan tersebut. Tidak ada anak yang mendapatkan hak istimewa, semua berkedudukan sama. Setiap anak dapat berganti-ganti perannya berdasarkan aturan main.
Berdasarkan paparan tersebut maka dapat diketahui bahwa nilai kejujuran, bertanggungjawab, kewaspadaan, keberanian, sportif, berdaya juang, dan keadilan dapat dibentuk melalui permainan dalam lagu dolanan.  Anak tidak harus digurui dan didikte agar menjadi anak yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai budaya Jawa. Karakter tersebut terbentuk secara alami pada saat menjalankan permainan disertai lagu dolanan Cublak-cublak Suweng.

b. Lagu Dolanan Sluku-sluku Bathok
Lagu dolanan Sluku- sluku Bathok dimainkan oleh tiga atau empat anak perempuan yang duduk dalam lingkaran. Kedua kakinya diselonjorkan sehingga telapak kaki saling bertemu. Selanjutnya anak-anak menyanyikan Sluku- sluku Bathok sambil kedua tangan menjulurkan mencapai jari-jari kaki masing-masing, berulang-ulang mengurut lutut dan tulang kering atau gares kaki. Adapun teks lagu Sluku- sluku Bathok adalah sebagai berikut.

Sluku- sluku bathok   
image: mudahdicari.com
Si rama menyang Sala
Leh- olehe payung motha
Mak jenthit lo lo lo bah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip goleka dhuwit

Artinya:
Sluku- sluku bathok,
Bathoknya bergerak ke kanan ke kiri
Bapak pergi ke Solo
Oleh- olehnya payung besar dan tebal
Mak jenthit lo lo lo bergerak
Orang mati tidak bergerak
Kalau bergerak anak-anak takut
Kalau hidup hendaknya mencari uang

Nilai budaya Jawa yang terbentuk melalui permainan Sluku- sluku Bathok, yaitu: kebersamaan atau solidaritas, bertanggung jawab, dan rajin bekerja. Nilai solidaritas terbentuk melalui permainan pada saat anak bergerak secara serentak berirama menyanyikan Sluku- sluku Bathok. Anak- anak bernyanyi sambil kedua tangan menjulur mencapai jari-jari kaki masing-masing, berulang-ulang mengurut lutut dan tulang kering atau gares kaki. Gerakan yang serentak berirama dan bersama-sama menunjukkan suatu kebersamaan dan keteraturan setiap peserta dalam permainan tersebut.
Nilai bertanggung jawab terbentuk melalui permainan Sluku- sluku Bathok pada saat anak menjalankan kewajibannya secara pribadi maupun bersama untuk bergerak sambil bernyanyi secara serentak. Gerakan harus bersama tidak boleh ada yang mendahului atau terlambat, begitu pula saat melagukan tembang Sluku- sluku Bathok. 
Ditinjau dari isi lagu pada larik wong mati ora obah; yen obah medeni bocah; yen urip goleka dhuwit ‘orang mati jika bergerak akan menakutkan bagi anak- anak, namun jika orang masih hidup, hendaklah bekerja mencari uang’; memberikan anjuran agar orang yang masih hidup hendaknya rajin bekerja untuk mendapatkan uang. Harapannya apabila seseorang memiliki uang yang cukup maka akan mencapai kebahagiaan dapat hidup berkecukupan. Seseorang yang sudah meninggal tidak dapat bergerak atau berbuat apapun, oleh karena itu selagi orang masih hidup perlu mengisinya dengan bekerja keras agar hidup bahagia dan berkecukupan.

d. Lagu Dolanan Oh Adhiku
Lagu dolanan anak dalam masyarakat Jawa selain diikuti dengan permainan, ada juga yang hanya dilagukan saja.  Lagu dolanan jenis tersebut antara lain: Oh Adhiku, Aku Duwe Pitik, Bebek Adus Kali, Kidang Talun, Padhang Rembulan, dan sebagainya. Lagu- lagu dolanan tersebut biasanya dinyanyikan bersama-sama oleh beberapa anak, semakin banyak jumlah anak yang bernyanyi maka akan semakin mengasyikkan. Lagu dolanan sebagai bagian dari bentuk budaya Jawa sering digunakan untuk mengemas suatu ajaran atau piwulang yang ditujukan untuk anak. Salah satunya dapat dicermati pada lagu dolanan Oh Adhiku. Adapun teks lagu dolanan Oh Adhiku adalah sebagai berikut.

Oh adhiku kekasihku            
image: mudahdicari.com
Aja pijer nangis wae
Ayo dolan karo aku
Ana ngisor uwit manggis
Dhela maneh ibu rawuh
Ngasta oleh-oleh
Gedhang goreng karo roti
Mengko diparingi

Artinya
Wahai adikku yang kukasihi
Jangan menangis terus
Ayo bermain bersamaku
Di bawah pohon manggis
Sebentar lagi ibu datang
Membawa oleh-oleh
Pisang goreng dan roti
Nanti (kita) diberi

Nilai budaya Jawa yang terkandung dalam lagu dolanan Oh Adhiku yaitu sesama saudara harus saling mengasihi. Seorang kakak harus menyayangi dan ngemong adiknya. Saudara tua harus mampu mengasuh dan membimbing saudaranya yang lebih muda. Ketika orang tuanya pergi, maka ia harus mampu menjaga adiknya. Ajaran tersebut dapat dicermati pada lirik: Oh adhiku kekasihku aja pijer nangis wae; ayo dolan karo aku ana ngisor uwit manggis ‘wahai adikku yang kukasihi, jangan menangis terus; ayo bermain bersamaku di bawah pohon manggis’. Berdasarkan teks lagu tersebut dapat dipaparkan kasih sayang seorang kakak mengasuh menghibur adiknya agar tidak terus menangis. Ia mengasuh adiknya dengan mengajaknya bermain bersama di bawah pohon manggis. Selain itu, pada lirik dhela maneh ibu rawuh ngasta oleh-oleh; gedhang goreng karo roti mengko diparingi ‘sebentar lagu ibu datang, membawa oleh-oleh pisang goreng dan roti, nanti (kita) pasti diberi’. Lirik tersebut mengandung ajaran bahwa seorang ibu sangat mengasihi anak-anaknya. Seorang anak terutama saudara tua harus mampu mengarahkan adiknya bahwa orang tua sangat mencintai anak-anaknya, dengan membawakan oleh-oleh ketika pergi.
Ajaran tersebut perlu diberikan pada anak untuk membentuk anak yang memiliki nilai saling mencintai dan menyayangi kepada orang tua dan saudaranya. Kasih sayang antara anak terhadap orang tua dan saudaranya tersebut perlu ditanamkan pada anak, mengingat pada saat ini marak terjadi kriminalitas antar anggota keluarga. Apabila nilai saling mencintai dan menyayangi antara sesama anggota keluarga terbina dengan baik maka kriminalitas dalam keluarga tidak akan terjadi. Dengan demikian, lagu dolanan Oh Adhiku perlu diajarkan pada anak untuk membentuk anak yang berkarakter tanpa merasa digurui ataupun didekte.   

e. Lagu Dolanan Dadi Murid
Lagu dolanan dadi murid merupakan lagu dolanan yang dilagukan saja tanpa disertai permainan. Adapun syair lagu dolanan tersebut adalah sebagai berikut:
Wajibe dadi murid
Ora kena pijer pamit
Kejaba yen lara
Lara tenan ra kena ethok-ethokan
Yen mari bali neng pamulangan
Ja nganti bolos-bolosan
Mundhak dadi bocah bodho
Longa-longo kaya kebo

Terjemahan:
Menjadi Murid
Kewajibannya menjadi murid/siswa
Tidak boleh sering membolos atau tidak berangkat sekolah
Kecuali kalau sakit
Sakit beneran tidak boleh bohong-bogongan
Kalau sudah sembuh kembali bersekolah
Jangan sampai bolos-bolosan
Nanti menjadi anak yang bodoh
Longa-longo seperti kerbau

Lagu dolanan tersebut mengarahkan agar anak sebagai seorang murid tidak sering membolos kecuali benar-benar sakit, jika sering membolos akan minim pengetahuannya. Orang yang minim pengetahuannya jika ditanya akan kebingungan atau bengong saja. Orang tersebut digambarkan seperti kerbau yang bengong atau longa-longo. Dengan demikian perilaku yang ditanamkan melalui lagu tersebut yaitu perilaku disiplin sebagai murid.

f. Lagu Dolanan Padhang Rembulan
Lagu dolanan Padhang Rembulan merupakan lagu dolanan yang awalnya dinyanyikan anak-anak masyarakat Jawa pada saat bulan purnama. Anak-anak bernyanyi untuk memanggil teman-temannya bermain bersama-sama menikmati bulan purnama. Setelah taman-temannya berkumpul, lagu dolanan tersebut sering dikombinasikan dengan permainan petak umpet, tebak-tebakan atau cangkriman, jamuran, engklek, dan lain-lain. Kondisi sekarang sudah berbeda, lagu dolanan Padhang Rembulan dikenal sebagai lagu dolanan saja, dan tidak lagi dinyanyikan di malam hari saat bulan purnama.
Adapun lagu dolanan Padhang Rembulan dapat diamati melalui video berikut ini.

Ya prakanca dolanan neng njaba     
Padhang bulan padhange kaya rina
Rembulane wis ngawe-awe
Ngelingake aja turu sore-sore

Ya prakanca dha padha mrenea
Bareng- bareng dolanan suka-suka
Langite padhang sumebar lintang
Ya padha dolanan sinambi cangkriman
Artinya
Ayo teman-teman bermain di luar (halaman)
Rembulan bersinar terang (suasananya) seperti siang hari
Rembulannya seakan-akan melambaikan tangan
Mengingatkan janganlah tidur sore- sore

Ayo teman-teman bersama-sama ke sini
Ramai-ramai bermain bersuka ria
Langitnya cerah bintang bertebaran
Ayo bermain bersama sambil main tebak-tebakkan

Nilai budaya Jawa yang ditanamkan pada anak melalui lagu dolanan Padhang Rembulan, yaitu: penghargaan terhadap alam semesta, religiusitas, dan solidaritas. Nilai penghargaan terhadap alam semesta dapat digunakan untuk membentuk pribadi dengan karakter mampu memberikan penghargaan terhadap alam semesta. Penghargaan tersebut dapat ditunjukkan dengan kekaguman dan takjub atas keindahan alam semesta. Nilai penghargaan terhadap alam semesta tersebut juga mendukung nilai religiusitas. Kesadaran akan keagungan alam semesta menuntun kekaguman pada Sang Penciptanya. Dengan demikian, nilai penghargaan terhadap alam semesta mendukung terbentuknya nilai religiusitas pada anak.
Nilai penghargaan pada alam semesta dan religiusitas dalam lagu Padhang Rembulan dapat ditemukan pada syair: padhang bulan padhange kaya rina...; langite padhang sumebar lintang...‘rembulan bersinar terang (suasananya) seperti siang hari, langitnya terlihat cerah bintang bertebaran’. Lirik tersebut menjelaskan bahwa pada saat bulan purnama suasana malam hari yang biasanya gelap menjadi terang benderang seperti siang hari. Langitnya terlihat cerah dihiasi bintang yang bertebaran. Keindahan bulan purnama dan bintang di malam hari tersebut perlu dinikmati, rugi kalau dilewatkan dengan tidur sejak sore hari. Keagungan alam semesta saat bulan purnama memberikan kedekatan hati atas kebesaran Sang Pencipta. Hal tersebut perlu dikenalkan pada anak agar terbentuk pribadi yang berkarakter mampu memberikan penghargaan terhadap alam semesta dan religius.
Nilai solidaritas dapat terbentuk melalui pemahaman ajaran yang terkandung pada syair ya pra kanca dolanan neng njaba..., yo prakanca dha padha mrenea, bebarengan dolanan suka-suka ‘ayo teman-teman bermain di luar (halaman)...., ayo teman-teman datanglah ke sini, bersama-sama bermain bersuka ria’. Syair tersebut menunjukkan ajakan untuk bermain bersuka ria bersama-sama. Ajakkan tersebut menunjukkan solidaritas atau kebersamaan dengan sesamanya untuk bermain bersuka ria. Kesenangan tidak hanya dinikmati sendiri, melainkan dinikmati dengan kebersamaan. Ajaran tersebut penting dikenalkan pada anak agar anak tidak egois atau individualis. Anak harus mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Bermain bersama merupakan salah satu ajang untuk mengasah jiwa solidaritas dan sosialnya dengan sesamanya. Kebersamaan dalam bermain tersebut dapat mendukung terbentuknya nilai solidaritas dan sosial pada anak.

2. Inventarisasi Nama Kembang, Makanan, dan Rumah melalui Lagu Dolanan
a. Lagu Dolanan Kembang Jambu
Lagu dolanan “Kembang Jambu” dilagukan tanpa disertai permainan. Lagu tersebut dilakukan bersama-sama oleh beberapa anak biasanya disertai tepuk tangan. Adapun lagu dolanan tersebut adalah sebagai berikut:

Kembang jambu karuk
Lintang rina jare esuk
Jenang tela gethuk
Omah jaga aran cakruk
Pitik mabur kuwi manuk

Terjemahan:
Kembang jambu karuk
Lintang/bintang rina pertanda pagi
Jenang ketela namanya gethuk
Rumah untuk berjaga namanya cakruk
Ayam yang terbang itu namanya burung.

Lagu dolanan tersebut memberikan pengetahuan tentang budaya Jawa mengenai inventarisasi nama kembang, nama rumah, nama bintang, nama makanan, dan nama hewan. Berdasarkan lagu dolanan tersebut diketahui bahwa nama kembang jambu yaitu karuk, nama bintang di pagi hari namanya lintang rina, jenang ketela namanya getuk, rumah untuk berjaga disebut cakruk, dan ayam yang dapat terbang disebut burung. Pengenalan kosakata pada anak mengenai inventarisasi kosakata dalam budaya Jawa pada anak akan lebih mudah jika disampaikan dalam bentuk lagu dolanan. Anak tidak merasa ditekan, melainkan anak belajar dengan bermain penuh kegembiraan.

b. Lagu Dolanan Kembang Blimbing
Lagu dolanan “Kembang Blimbing” cara melagukannya sama dengan lagu dolanan “Kembang Jambu”, yaitu tanpa disertai permainan. Adapun syair lagu dolanan “Kembang Blimbing” adalah sebagai berikut:

Kembang blimbing bing maya-maya ya
Kembang pelem wujude, ingklik ketela
Kembang kacang lan kara padha kupune,
Kembang pring blas-blasan kaya carange
Kembang jambu lan randhu metu karuke lha kae
Dhasar mblanggreng si kopi pemacak ira

Terjemahan:
Kembang belimbing  bing (namanya) maya
Kembang mangga wujud namanya, ingklik kembang ketela
Kembang kacang dan kara sama bentuknya seperti kupu
Kembang bambu bentuknya ruas-ruasan seperti rantingnya
Kembang jambu dan randhu keluar karuknya  lha itu
Dhasar blanggreng si kopi sifatnya.

Lagu dolanan tersebut dilagukan saja bersama-sama oleh beberapa anak. Lagu tersebut memberikan pengetahuan mengenai perbendaharaan kata tentang nama atau bentuk kembang suatu tanaman. Adapun pengetahuan mengenai nama kembang, yaitu: kembang buah belimbing namanya maya, kembang buah mangga namanya wujud, kembang ketela namanya ingklik, kembang jambu dan randhu namanya karuk, dan kembang kopi namanya blanggreng sesuai sifatnya yang harum sekali. Selain nama kembang dalam lagu dolanan tersebut juga disebutkan bentuk kembang kacang dan kara seperti kupu, dan bentuk kembang bambu beruas-ruas seperti rantingnya. Pengetahuan mengenai nama-nama kembang dan bentuk tersebut perlu dilestarikan agar penguasaan bahasa siswa menjadi meningkat, dan bahasa Jawa memang kaya mengenai nama-nama kembang pada tanaman.

3. Penggambaran Peradapan Kehidupan Pedesaan melalui Lagu Dolanan
Salah satu lagu dolanan yang menggambarkan peradapan kehidupan pedesaan yaitu lagu dolanan Jago Kluruk. Berikut ini teks lagu dolanan “Jago Kluruk”:
Ing wayah esuk jagone kluruk
Rame swarane pating kemruyuk
Banget senenge sedulur tani
Bebarengan padha nandur pari
Srengenge nyunar wetan prenahe
Manuke ngoceh ana wit-witan
Pating cemruwit endah swarane
Tambah asri jagad seisine

Terjemahan:
Di waktu pagi ayam jagonya berkokok
Ramai suaranya saling bergerombol
Senang sekali para petani
Bersama-sama menanam padi
Matahari bersinar di sebelah timur
Burungnya berkicau di pepohonan
Ramai berkicau indah suaranya
Menambah keindahan alam seisinya

Lagu dolanan tersebut memberikan pengetahuan pada anak tentang suasana pedesaan dan para petani. Generasi muda pada masyarakat Jawa sekarang sudah banyak yang tidak mengetahui suasana pedesaan dan kehidupan para petani terutama yang tinggal di perkotaan. Lagu tersebut memberikan gambaran suasana pedesaan di pagi hari, dimana para penduduknya selain bertani juga memiliki ternak ayam. Petani menanam pagi pada pagi hari dibarengi kicauan burung yang menambah indah suasana alam seisinya.

4. Penggambaran Karakteristik Hewan melalui Lagu Dolanan
Lagu dolanan yang menggambarkan tentang karakteristik hewan sesuai khasanah budaya Jawa salah satunya adalah Lagu Dolanan Kidang Talun. Adapun cara menyanyi dan menarikannya dapat dicerati pada video sebagai berikut.




Kidang talun mangan kacang talun  
Mil kethemil-mil kethemil
Si kidang mangan lembayung
Gajah belang saka tanah plembang
Nuk legenuk nuk legenuk
Gedhene meh kaya gunung

Terjemahan:
Kijang talun makan kacang talun
Mil kethemil-mil kethemil
Si Kijang memakan lembayung
Gajah belang dari tanah Palembang
Nuk legenuk nuk legenuk
Besarnya hampir seperti gunung

Lagu dolanan “Kidang Talun” tersebut mengandung budaya Jawa mengenai pendeskripsian/penggambaran kebiasaan hewan yaitu kijang talun itu suka memakan kacang talun dan lembanyung. Penggambaran lainnya yaitu gajah dari Palembang itu bentuknya besar dan gemuk. Hal tersebut perlu dikenalkan kepada anak agar anak mengetahui kebiasaan dan karakteristik hewan khususnya kijang dan gajah. Jika anak mengenali hewan-hewan tersebut maka anak dapat menyayangi hewan tersebut sehingga dapat melestarikan kelangsungan hidup mereka.

E. Kesimpulan
Lagu  dolanan sebagai salah satu wujud budaya Jawa yang adiluhung dijadikan sarana menyampaikan wejangan atau ajaran pada anak. Lagu dolanan pada masyarakat Jawa mengandung ajaran tentang perilaku luhur dapat digunakan sebagai sarana membentuk perilaku pada anak. Proses yang berlangsung dalam pembentukkan perilaku tersebut seiring dengan dunia anak bermain, sehingga anak tidak merasa tertekan atau dipaksakan. Meskipun demikian, keluarga dan orang-orang sekitar berperan penting dalam rangka memberikan penguatan pada terbentuknya karakter pada anak. perilaku yang dapat dibentuk melalui lagu tersebut antara lain: bertanggung jawab, kejujuran, disiplin, rajin bekerja, solidaritas, keadilan, keberanian, sportif, kemandirian, berdaya juang, kasih sayang, penghargaan terhadap alam semesta dan religiusitas. Lagu dolanan dalam budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat Jawa dapat digunakan: (1) mengajarkan berperilaku yang sesuai dengan budaya Jawa (2) mengajarkan inventarisasi nama kembang, makanan, dan rumah; (3) menggambarkan peradapan kehidupan pedesaan; dan (4) menggambarkan karakteristik hewan.

Daftar Pustaka

Balitbang. (2010). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Balitbang

Bastomi, Suwaji. 1991. Seni Dan Budaya Jawa. Semarang: IKIP Semarang Press
Dharmamulya, Sukirman. 1993. Transformasi Nilai melalui Permainan Rakyat DIY. Yogyakarta: Depdikbud
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia
Kohlberg, Lawrence. 1976. Stage and Sequence The Cognitive Development Approach to Socialization. Chicago: Rand Mc Nally and Company

Padmopuspita, Asia. 1996. “Pustaka Sumber Ajaran Budi Pekerti” (Makalah Seminar Sehari Pendidikan Budi Pekerti). Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

Poerwadarminta, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Groningen: Batavia

Puskur.2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Budi Pekerti untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas

Parwatri, dkk. (2004). Laku. Depok: Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Inddonesia

Simuh. 1995. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bintang

Sujamto. 1992. Refleksi Budaya Jawa. Semarang: Effhar & Dahara Prize

Suparno, Paul, dkk. 2002. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Suatu Tinjauan Umum. Yogyakarta: Kanisius

Surya, Djaka. 1995. “Warisan Moralitas Islam, Refleksi Budaya Jawa” (Makalah Festival Istiqlal). Yogyakarta

Suyatno. (2005). Permainan pendukung Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Gramedia

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Malang: Bumi Aksara