Minggu, 05 April 2020

UNDHA USUK DALAM BAHASA JAWA

image: www.hipwee.comtion

Istilah ungah ungguh sering disebut juga tata krama, atau sopan santun. Perihal unggah-ungguh membicarakan tentang pemilihan kata yang tepat, runtutnya ketatabahasaan, tingkah laku ketika menyatakan atau melisankan, intonasi ketika mengekspresikan, serta ketepatan dalam berbusana (Adisumarto, 1991: 10). Adapun tujuan unggah-ungguh yakni, ketercapaian komunikasi yang baik dan halus antara pembicara dengan pendengar. Hal ini dilalui dengan realitas adanya undha-usuk basa (tataran) dalam berbahasa Jawa. Semula, bahasa Jawa memiliki tataran yang relative rumit,  yakni: (1) ngoko lugu dan ngoko andhap, yang dibagi menjadi antya basa dan basa antya, (2) madya, yang dibagi menjadi madya ngoko, madyantara, dan madya karma, (3) krama, yang dibagi menjadi mudha krama, kramantara, wredha krama, (4) krama inggil, (5) basa kedhaton, (6) krama desa, dan (7) basa kasar.
Kenyataan itu sangat sulit dipelajari oleh generasi penerus, oleh karena itu, pada tahun 1991 ditetapkan tata bahasa baku bahasa Jawa, yakni (1) ngoko, (2) ngoko alus, (3) krama, (4) krama alus (Sudaryanto, 1991: 5). Intinya ragam bahasa Jawa dibagi menjadi ragam ngoko dan ragam krama. Ragam, ngoko dibagi menjadi dua, yaitu:(1) ngoko lugu, yakni semua kata adalah kata bahasa Jawa ngoko, tidak ada kata yang diperhalus; (2) ngoko alus adalah semua kata menggunakan ngoko tetapi khususnya kata ganti orang yang dihormati beserta aktivitasnya dihaluskan. Sedangkan ragam Krama dibagi menjadi dua, yaitu (1) krama atau krama lugu dan (2) krama alus atau krama inggil. Krama lugu adalah semua kata berupa kata ragam krama, tetapi sebagiannya masih berupa kata singkatan (tembung wancahan). Krama alus atau krama inggil adalah semua menggunakan kata ragam krama dan tidak ada lagi kata singkatan.
Kata berbahasa Jawa memiliki tingkat tuturnya masing-masing, meski sebagiannya dengan kata yang sama pada tingkat tutur masing-masing. Kata akon dalam bentuk ngoko (lugu) diperhalus dalam bentuk krama (lugu) menjadi aken atau kengken dan lebih halus lagi dalam bentuk krama inggil menjadi kata dhawuh. Kata anak dalam bentuk ngoko (lugu) jika dirubah dalam bentuk krama (lugu) menjadi lare, dan dirubah menjadi putra dalam bentuk krama alus atau krama inggil. Meskipun demikian, karena bahasa bersifat arbitrer, maka pengetahan tentang kebahasaan itu hanya dapat dimengerti dan diterapkan sebagai kebiasaan. Hal ini yang perlu ditekankan oleh masyarakat Jawa, sehingga dalam mendidik anak agar mengerti bahasa Jawa halus, orang tua harus berbahasa halus kepada anak kecil sejak balita. Orang Jawa tidak diperkenankan meninggikan atau menggunakan bahasa halus bagi dirinya sendiri, sehingga tidak menggunakan kula dhawuhi, tetapi cukup dengan kula kengken. Demikianlah sehingga memang diperlukan pembiasaan dalam mempelajari bahasa Jawa. Hal ini akan membiasakan anak untuk menggunakan bahasa yang halus untuk menghormati orang lain yang seharusnya dihormati. Anak tidak menggunakan diksi yang halus atau tinggi untuk dirinya sendiri.
Bahasa Jawa merupakan media untuk mengajarkan dan menanamkan nilai sopan santun pada anak usia dini dengan berlandaskan nilai budaya lokal. Salah  satunya dapat melalui pengenalan dan pendidikan unggah-ungguh. Masa usia dini tersebut merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.
Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu merupakan fakta di lingkungan anak yang dapat digunakan sebagai stimulans terhadap perkembangannya, khususnya dalam perkembangan sosialnya melalui pengenalan dalam upaya pendidikan unggah-ungguh bahasa Jawa. Tentu saja dalam hal ini, bukan pendidikan atau pembelajaran unggah-ungguh bahasa Jawa yang bersifat formal dan teoritik. Anak dapat belajar berbagai budaya Jawa, tetapi lebih menekankan pada pengenalan unggah-ungguh bahasa Jawa yang bersifat praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari dan menyenangkan sesuai dengan usia perkembangan anak di usia dini.

Referensi:

Adisumarto, M. (1991). Pengajaran bahasa Jawa di SMTP Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Ngadiman, A. (2006). Tingkat Tutur Bahasa Jawa Wujud Kesantunan Manusia Jawa (Dulu dan Sekarang). In Kesantunan Manusia Jawa. Surabaya: Universitas Katolik Widya Mandala.

Sudaryanto. (1991). Tata Bahasa Baku  Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana

Suharti. 2001. Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama dalam Keluarga Sebagai Sarana Pendidikan Sopan Santun. Makalah Konggres. Yogyakarta: Konggres Bahasa Jawa III.








2 komentar:

  1. Unggah-ungguh acquisition ^^
    Berbanggalah para orang tua yang mampu menjadi model anak dalam pemerolehan bahasanya. Kagum dengan penulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih belajar Mbak Surya...ayo semangat mengajarkan bahasa Bali untuk ananda tercinta

      Hapus