Oleh: Nurhidayati
FBS UNY
Upacara tradisi Wiwit berasal dari kata “wiwit”, yang artinya awal, atau mulai (Purwadarminto, 1939 : 666). Upacara tradisi Wiwit merupakan salah satu upacara tradisional masyarakat Jawa pada saat akan mengawali atau memulai atau panen padi. Upacara tradisi Wiwit pada saat ini sudah jarang dilaksanakan oleh para petani. Hal tersebut dikarenakan minimnya kepahaman kearifan lokal pada nilai- nilai simbolik upacara tradisi Wiwit, efisiensi nilai ekonomis, dan minimnya waktu.
Kearifan lokal dalam upacara tradisi Wiwit memiliki nilai-nilai simbolik yang dapat mengatur kehidupan masyarakat dalam beberapa hal, yaitu: 1) mengatur hubungan manusia dengan Tuhan agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan selalu berserah dan memohon keberhasilan atas usaha yang telah dilakukannya kepada Tuhan; 2) mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dengan cara selalu berusaha agar dapat bermanfaat bagi orang lain; 3) mengatur hubungan dengan alam dengan cara mengolah tanah pertanian agar selalu terjaga kesuburannya sebagai sumber kehidupan manusia. Nilai-nilai simbolik dalam upacara tradisi Wiwit tersebut sebagai salah satu wujud kearifan lokal budaya Jawa. Nilai-nilai yang dihadirkan melalui simbol-simbol dalam rangkaian upacara tersebut perlu dipahami kembali, salah satunya melalui gerakan literasi budaya.
![]() |
| sumber: TVRI Yogyakarta |
![]() |
| sumber: TVRI Yogyakarta |
Kearifan lokal dalam upacara tradisi Wiwit memiliki nilai-nilai simbolik yang dapat mengatur kehidupan masyarakat dalam beberapa hal, yaitu: 1) mengatur hubungan manusia dengan Tuhan agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan selalu berserah dan memohon keberhasilan atas usaha yang telah dilakukannya kepada Tuhan; 2) mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dengan cara selalu berusaha agar dapat bermanfaat bagi orang lain; 3) mengatur hubungan dengan alam dengan cara mengolah tanah pertanian agar selalu terjaga kesuburannya sebagai sumber kehidupan manusia. Nilai-nilai simbolik dalam upacara tradisi Wiwit tersebut sebagai salah satu wujud kearifan lokal budaya Jawa. Nilai-nilai yang dihadirkan melalui simbol-simbol dalam rangkaian upacara tersebut perlu dipahami kembali, salah satunya melalui gerakan literasi budaya.
Simbol-simbol dalam upacara tradisi Wiwit ini merupakan salah satu bentuk literasi budaya Jawa. Literasi tidak hanya dibatasi pada kemampuan membaca dan menulis saja. Hal ini sejalan dengan Sari & Pujiono (2017) literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk membangun sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa. Sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan dengan sendirinya menuntut kecakapan personal (personal skill) yang berfokus pada kecakapan berpikir rasional. Kecakapan berpikir rasional mengedepankan kecakapan menggali informasi dan menemukan informasi.
literasi menurut UNESCO merupakan seperangkat keterampilan dalam memadukan keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis dalam memahami konteks baik dalam kompetensi bidang akademik, institusi, nilai-nilai budaya dengan mengaitkan (Setyawan, 2018) .
literasi menurut UNESCO merupakan seperangkat keterampilan dalam memadukan keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis dalam memahami konteks baik dalam kompetensi bidang akademik, institusi, nilai-nilai budaya dengan mengaitkan (Setyawan, 2018) .
Pengertian tersebut menuntun pemahaman literasi sebagai melek budaya, yaitu kemampuan untuk mengenal, memahami, mengelola pemikiran para leluhur tentang tatanan hidup yang melekat sebagai pandangan hidup melalui simbol-simbol budaya pada masa lalu. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami kembali sebagai bentuk kearifan lokal yang masih relevan untuk memecahkan persoalan kehidupan pada masa sekarang.
Berikut ini silahkan diamati video tentang pelaksanaan upacara tradisi wiwit di daerah Banglen Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta.
sumber: TVRI Yogyakarta
Referensi:
Poerwadarminto, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: Groningen
Sari, Esty Swastika & Pujiono, Setyawan. 2017. Budaya Literasi Di Kalangan Mahasiswa FBS UNY. Yogyakarta: LITERA, Volume 16, Nomor 1, April 2017



Literasi dan budaya lokal 'Wiwit'. menarik sekali.
BalasHapusayo di Bali ada gak Mbak Surya...nanti bisa kita bandingkan jadi penelitian bersama
Hapus