Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran menyimak berita dalam mata kuliah Mirengaken Basa Jawi dengan dengan aplikasi adobe flash di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY. Materi berita yang dikembangkan salah satunya mengenai trasidi Wiwit sebagai upaya pemahaman literasi budaya Jawa. Literasi budaya Jawa tidak hanya berupa tulisan, namun juga dapat berupa berbagai simbol kearifan lokal dalam sesaji rangkaian upacara tradisional Wiwit. Penelitian ini dilakukan dalam desain penelitian dan pengembangan atau R&D. Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Berdasarkan validasi ahli dan hasil ujicoba dapat disimpulkan bahwa kualitas media yang dikembangkan berkategori baik. Media yang dikembangkan selanjutnya diukur efektifitasnya dengan uji t. Hasil uji t menunjukkan koefisien t sebesar -10,559 dengan taraf signifikasi 0%, hal ini menujukkan bahwa media yang dikembangkan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran mirengaken pawartos. Adapun makna yang terkandung dalam literasi budaya Wiwit yaitu: (a) hubungan manusia dan Tuhan yang disimbolkan dalam bentuk sesaji ingkung ayam jago; (b) hubungan manusia dengan sesama disimbolkan dalam bentuk sesaji jajan pasar, buah-buahan dan lumbungan; dan (c) hubungan manusia dengan alam disimbolkan dalam bentuk nasi megana, dan gudangan. Pemaknaan berbagai simbol dalam literasi budaya Wiwit menegaskan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan harus bertakwa kepada Tuhan. Hal ini juga harus diikuti adanya kebermanfaatan bagi sesamanya. Hubungan manusia dengan alam ditunjukkan dengan ajaran bahwa kesuburan tanah harus dijaga sehingga dapat mendatangkan hasil pertanian yang baik. Berbagai ajaran luhur dalam budaya Wiwit tersebut perlu dikembangkan dalam bentuk media pembelajaran agar peserta didik dapat memahami literasi budaya Jawa sebagai sarana memperkuat budaya lokal.
Kata kunci: pengembangan media, menyimak berita tradisi Wiwit, dan literasi budaya Jawa
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kearifan lokal dalam khasanah budaya Jawa merupakan hasil pemikiran yang mendalam sebagai pandangan hidup untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan selaras dengan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Kearifan lokal dalam masyarakat Jawa secara turun - temurun diwariskan dalam bentuk upacara tradisional yang mengandung berbagai makna simbolik baik dalam prosesi maupun berbagai peralatan sesaji yang digunakannya. Kearifan lokal dalam upacara tradisional ini salah satunya terdapat pada upacara tradisi Wiwit. Nilai-nilai simbolik yang terkandung dalam upacara tradisi Wiwit masih relevan dengan kehidupan sekarang. Kearifan lokal dalam upacara tradisi Wiwit tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu materi budaya dalam pembelajaran.
Pembelajaran mengenai kearifan lokal budaya Jawa di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY salah satunya diintegrasikan dalam mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi”. Mata kuliah ini bertujuan memberikan keterampilan kepada mahasiswa untuk dapat menyimak bahasa Jawa dalam khasanah budaya Jawa melalui berbagai media. Salah satu materi yang disimak dalam mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi” yaitu: berita atau pawartos. Materi tersebut perlu dikemas dalam media pembelajaran yang menarik agar mendukung terciptanya pembelajaran yang intensif. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan sebagai berikut.
1. minimnya media pembelajaran dalam mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi” yang dapat menciptakan pembelajaran mandiri bagi mahasiswa
2. perlunya ketersediaan bahan ajar yang variatif dan inovatif
3. perlunya menciptakan model pembelajaran bahasa Jawa yang menarik
4. perlunya meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menyimak pawartos.
5. minimnya pemahaman mahasiswa pada kearifan lokal dalam literasi budaya Jawa
Salah satu alternatif sebagai solusi dari berbagai permasalah tersebut, yaitu perlunya mengemas materi kearifan lokal Jawa dalam tradisi Wiwit dalam media pembelajaran melalui aplikasi Adobe Flash. Pengembangan media pembelajaran tersebut diaplikasikan dalam sebuah penelitian dan pengembangan (Research and Development) bagi mahasiswa semester 2 di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, meliputi:
1. pengembangan media pembelajaran menyimak pawartos dengan aplikasi adobe flash dalam mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi”;
2. mendeskripsikan kualitas media yang dikembangkan daalam pembelajaran menyimak pawartos dengan aplikasi adobe flash pada mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi”.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media menurut Sadiman, dkk (2007: 6) merupakan sarana untuk menyampaikan pesan sumber belajar untuk merangsang perhatian,pikiran, perasaan, dan kemauan agar dapat aktif dalam proses pembelajaran.
Media pembelajaran menurut Arsyad (2009: 5) berkaitan dengan segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi dengan memanfaatkan teknologi bukan hanya hadir sebagai alat pembelajaran melainkan juga berkaitan dengan sikap dan perbuatan yang berkaitan dengan penerapan ilmu.
Berdasarkan beberapa paparan tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik (hardware) yang mengandung materi instruksional (software) untuk merangsang kegiatan belajar siswa. Penyatuan soft ware dan hard ware tersebut dalam pembelajaran merupakan wujud dari media pembelajaran.
B. Pengertian Multimedia Pembelajaran
Pengertian multimedia dalam pembelajaran menurut Arsyad (2009: 170) adalah media yang merupakan kombinasi dari dua atau lebih jenis media. Media tersebut menggunakan kendali utama melalui komputer sebagai penggerak keseluruhan penggabungan beberapa media tersebut.
Pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran menurut Mayer (2009: 21) tidak hanya mengaktifkan pemahaman siswa melalui sajian materi yang kohenren dalam presentasi berbagai media. Presentasi multimedia dalam pembelajaran ditujukan untuk menyajikan informasi dan membimbing bagaimana memproses informasi yang disajikan. Multimedia harus mengarahkan hal-hal yang harus diperhatikan, bagaimana mengenalinya secara mental, bagaimana menghubungkannya dengan pengetahuan-pengetahuan terdahulu. Dengan demikian multimedia digunakan untuk membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan. Multimedia membantu siswa tidak hanya mengembangkan pemahaman terhadap materi, tetapi juga menemukan dan menggunakannya. Multimedia memberikan fasilitas siswa untuk latihan dan aplikasi pengetahuan.
Multimedia yang biasa digunakan dalam pembelajaran menurut Arsyad (2009: 172) biasanya berupa kombinasi grafik, teks, suara, video, dan animasi. Berbagai kombinasi tersebut merupakan satu kesatuan yang bersama-sama menampilkan informasi, pesan, atau isi pembelajaran. Penggunaan multimedia dalam pembelajaran bertujuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Informasi akan lebih mudah dimengerti karena multimedia memungkinkan banyak indera untuk terlibat dalam menyerap informasi, terutama telinga dan mata.
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran untuk mencapai pembelajaran bermakna (meaningful learning) menurut Mayer (2009: 80) meliputi lima langkah, yaitu:
1) memilih kata- kata yang relevan untuk memprosesan dalam memori kerja verbal;
2) memilih gambar- gambar yang relevan untuk memprosesan dalam memori kerja visual;
3) menata kata- kata yang terpilih ke dalam model mental verbal;
4) menata gambar- gambar yang terpilih ke dalam model mental visual;
5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
C. Adobe Flash sebagai Multimedia Berbasis Komputer
Flash dirilis oleh Macromedia pada tahun 1996, sehingga media ini dikenal dengan nama “Macromedia Flash”. Setelah 3 Desember 2005 Adobe Flash Systems mengakusisi Macromedia dan seluruh produknya, sehingga berubah menjadi “Adobe Flash” (Sunyoto, 2010: 2).
Flash menurut Pramono (2006: 25) memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
1) hasil akhir file flash memiliki ukuran yang lebih kecil setelah di publish;
2) flash mampu mengimpor hampir semua file gambar dan file- file audio sehingga penggunaan flash yang menarik;
3) animasi dapat dibentuk, dijalankan, dan dikontrol;
4) flash mampu membuat file executuble (*.exe). flash dapat dijalankan pada notebook manapun tanpa harus meng-install program flash terlebih dahulu;
5) font yang digunakan tidak akan berubah meskipun notebook tidak memiliki font tersebut;
6) gambar flash merupakan gambar vektor sehingga tidak pernah pecah meskipun di-zoom beberapa kali;
7) flash mampu dijalankan pada sistem operasi windows maupun macintosh;
8) hasil akhir dapat disimpan dalam berbagai macam bentuk, seperti: *.avi, *.gif, *.mov, ataupun file dengan format lain.
Adobe flash merupakan multimedia yang pengoprasiannya atau pengendaliannya menggunakan komputer. Dengan demikian adobe flash merupakan salah satu bentuk dari multimedia pembelajaran berbasis komputer. Adobe Flash sebagai salah satu multimedia pembelajaran memiliki keunggulan yaitu mampu menyajikan tampungan animasi yang beragam.
Animasi dalam media diperlukan untuk mendukung ilustrasi dalam menyampaikan materi pembelajaran. Menurut Mayer (2009: 37) ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi pada saat menyajikan ilustrasi, yaitu:
1) Concentred, yakni: memberikan penekanan ilustrasi dan penyajian teks pada ide- ide kunci atau pokok;
2) Consise, yakni: memadatkan teks dan fitur visual, hindari gambar dan paparan yang tidak penting;
3) Correspondent, yakni: segmen ilustrasi dan teks terkait disajikan secara berdekatan;
4) Concrete, yakni: teks dan ilustrasi disajikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan visualisasi yang gampang;
5) Coherent, yakni: materi yang disajikan memiliki struktur yang jelas dan urut;
6) Comprehensible, yakni: teks dan ilustrasi yang disajikan mempermudah siswa untuk memahami materi dan menerapkannya;
7) Codable, yakni: istilah- istilah kunci dalam teks dan fitur kunci dalam ilustrasi digunakan secara konsisten agar mudah diingat.
Berkaitan dengan perancangan media pembelajaran terutama yang menggunakan perangkat lunak perlu memperhatikan berbagai kreteria kualitas media pembelajaran. Menurut Walker dan Hess (Arsyad, 2009: 175) kualitas media dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu:
1) Kualitas isi dan tujuan, meliputi: (a) ketepatan, (b) kepentingan, (c) kelengkapan, (d) keseimbangan, (e) minat dan perhatian, dan (f) sesuai dengan kebutuhan siswa;
2) Kualitas instruksional, meliputi: (a) memberikan kesempatan belajar, (b) memberikan bantuan untuk belajar, (c) kualitas motivasi, (d) fleksibel instruksionalnya, (e) berhubungan dengan program pelajaran lain, (f) kualitas tes dan penilaiannya, (g) dapat memberikan dampak positif bagi siswa, dan (h) memberikan dampak bagi guru dalam pembelajaran;
3) Kualitas teknis, meliputi: (a) keterbacaan, (b) mudah digunakan, (c) kualitas tampilan/tayangan, (d) kualitas penanganan jawaban, (e) kualitas pengolahan programnya, dan (e) kualitas pendokumentasiannya.
D. Berita atau Pawartos
Berita disebut juga pawartos dalam bahasa Jawa. Pawartos merupakan salah satu materi yang dipelajari dalam mata kuliah “Mirengaken Basa Jawi” bagi mahasiswa semester 2 di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY.
Pawartos merupakan bentuk krama dari pawarta. Kata pawarta merupakan penggabungan dari ater-ater pa- yang melekat pada bentuk dasar warta. Warta secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yaitu vṛtta ‘kabar’. Kata vṛtta ‘kabar’ diserap dalam bahasa Jawa Kuna menjadi wṛtta ‘kejadian, cerita, berita, kabar’ (Mardiwarsita, 1981: 697). Kata wṛtta selanjutnya diserap dalam bahasa Jawa Baru menjadi warta ‘kabar, berita, pemberitahuan’ (Poerwadarminta, 1939: 657). Berita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 167) cerita atau keterangan mengenai mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar; laporan; pemberitahuan; dan pengumuman.
Berita adalah informasi yang aktual mengenai suatu peristiwa yang disampaikan melalui media cetak maupun elektronik kepada khalayak umum. Menurut http://kamusbahasaindonesia.org/berita/ berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet.
Berdasarkan paparan tersebut dapat ditegaskan bahwa berita adalah informasi aktual yang penting dan benar berdasarkan fakta dan bukti mengenai suatu peristiwa melalui media cetak dan elektronik kepada masyarakat luas.
Informasi yang dimuat dalam berita memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Aktual (baru), hal-hal yang baru lebih memiliki nilai berita dibandingkan hal-hal yang terjadi sudah lama.
2) Jarak (jauh/ dekat), khalayak lebih tertarik akan kejadian yang terjadi di sekitar mereka dibandingkan dengan kejadian di tempat yang lebih jauh.
3) Penting, sesuatu menjadi berita saat dianggap penting, karena berpengaruh pada kehidupan secara langsung, contoh: UU larangan merokok.
4) Dampak, sesuatu menjadi berita karena memiliki dampak yang besar bagi khalayak
5) Jelas / akurat, sesuatu menjadi berita harus jelas sehingga keakuratannya perlu didukung oleh bukti yang nyata.
6) Kemajuan-kemajuan, sesuatu menjadi berita salah satunya merupakan gambaran dari perkembangan sesuatu.
7) Inovasi baru atau perubahan, sesuatu mejadi berita penting jika ada kaitannya dengan inovasi baru atau perubahan.
8) Konflik, pertentangan sesuatu merupakan berita penting untuk diketahui khalayak.
9) Emosi, suatu peristiwa yang menguras emosi merupakan berita yang menarik bagi khalayak.
Pengkajian berita dalam pembelajaran secara konten dapat ditinjau dari 5 W + 1 H. Adapun paparannya sebagai berikut: what, apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa? Who, siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut? Where, dimakana terjadinya peristiwa tersebut? When, kapan terjadi peristiwa tersebut? Why, mengapa peristiwa tersebut terjadi? Dan how, bagaimana proses terjadinya peristiwa tersebut?
E. Literasi Budaya dalam Upacara Tradisi Wiwit
Upacara tradisi Wiwit berasal dari kata “wiwit”, yang artinya awal, atau mulai (Purwadarminto, 1939 : 666). Upacara tradisi Wiwit merupakan salah satu upacara tradisional masyarakat Jawa pada saat akan mengawali atau memulai atau panen padi. Upacara tradisi Wiwit pada saat ini sudah jarang dilaksanakan oleh para petani. Hal tersebut dikarenakan minimnya kepahaman kearifan lokal pada nilai- nilai simbolik upacara tradisi Wiwit, efisiensi nilai ekonomis, dan minimnya waktu.
Kearifan lokal dalam upacara tradisi Wiwit memiliki nilai-nilai simbolik yang dapat mengatur kehidupan masyarakat dalam beberapa hal, yaitu: 1) mengatur hubungan manusia dengan Tuhan agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan selalu berserah dan memohon keberhasilan atas usaha yang telah dilakukannya kepada Tuhan; 2) mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dengan cara selalu berusaha agar dapat bermanfaat bagi orang lain; 3) mengatur hubungan dengan alam dengan cara mengolah tanah pertanian agar selalu terjaga kesuburannya sebagai sumber kehidupan manusia. Nilai-nilai simbolik dalam upacara tradisi Wiwit tersebut sebagai salah satu wujud kearifan lokal budaya Jawa. Nilai-nilai yang dihadirkan melalui simbol-simbol dalam rangkaian upacara tersebut perlu dipahami kembali, salah satunya melalui gerakan literasi budaya.
Literasi menurut Mujib (2016: 1) melalui http://www.wikipendidikan.com dijelaskan bahwa literasi dapat didefinisikan melalui berbagai sudut pandang. Literasi berasal dari istilah latin “literature” dan bahasa Inggris “letter”. Literasi dijelaskan sebagai seperangkat kemampuan untuk melek huruf/ aksara dalam hal ini membaca dan menulis. Makna literasi secara lebih luas diartikan pula sebagai melek visual, yaitu kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengolah ide-ide yang dihadirkan secara visual melalui adegan, video, ataupun gambar. Pengertian tersebut menuntun pemahaman literasi sebagai melek budaya, yaitu kemampuan untuk mengenal, memahami, mengelola pemikiran para leluhur tentang tatanan hidup yang melekat sebagai pandangan hidup melalui simbol-simbol budaya pada masa lalu. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami kembali sebagai bentuk kearifan lokal yang masih relevan untuk memecahkan persoalan kehidupan pada masa sekarang.
III. METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penerapan dari penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang diarahkan untuk mengembangkan media pembelajaran menyimak berita atau mirengaken pawartos. Desain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian pengembangan model ADDIE Dick & Carry. Adapun alur atau tahapan penelitiannya meliputi: analysis (analisis kebutuhan), design (desain), development (pengembangan), implementation (penerapan/ujicoba), dan evaluation (evaluasi dan revisi).
B. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode. Adapun metode yang digunakan, meliputi: observasi, angket, wawancara, tes, dan dokumentasi.
C. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: kisi-kisi tes, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Berbagai instrumen tersebut harus disiapkan dengan cermat untuk menghasilkan data yang akurat.
D. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Adapun tahapan analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut.
Data hasil validasi media dianalisis dengan mengubah kategori dalam skala likert menjadi skor, yaitu: kategori sangat kurang mendapatkan skor 1, kategori kurang mendapatkan skor 2, kategori cukup mendapatkan skor 3, kategori baik mendapatkan skor 4, dan kategori sangat baik mendapatkan skor 5. Data hasil validasi secara keseluruhan diolah untuk dijadikan skor kemudian dijumlah. Setelah diketahui skor total validasi, selanjutnya mengolah total skor menjadi persentase penilaian kualitas media.
Analisis hasil skor ke dalam persentase penilaian kualitas media dengan menggunakan rumus: (jumlah skor yang diperoleh/ skor ideal)x 100%. Hasil persentase penilaian tersebut kemudian dikonversikan dalam kategori interval (Sugiyono, 2008: 137), yaitu: 0% sampai dengan 20% berkategori sangat kurang, 20,1% sampai dengan 40% berkategori kurang, 40,1% sampai dengan 60% berkategori cukup baik, 60,1% sampai dengan 80% berkategori baik, dan 80,1% sampai dengan 100% berkategori sangat baik.
Penilaian kualitas media perlu didampingi dengan tes untuk menguji efektifitas media yang dihasilkan. Efektifitas media dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan uji t pretes- postes.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pengembangan Media Mirengaken Pawartos
Pengembangan media pembelajaran mirengaken pawartos dalam mata kuliah Mirengaken Basa Jawi melalui beberapa tahapan, yaitu: analysis (analisis kebutuhan), design (desain), development (pengembangan), implementation (penerapan/ujicoba), dan evaluation (evaluasi dan revisi). Adapun penjelasan tahapan pengembangan media ini adalah sebagai berikut.
Tahap analisis kebutuhan dilakukan dengan mencermati kurikulum dan observasi lapangan. Berdasarkan kurikulum Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY diketahui bahwa mahasiswa semester 2 harus menempuh mata kuliah Mirengaken Basa Jawi. Salah satu kompetensi dari mata kuliah tersebut, yaitu: mahasiswa dapat memahami dan menganalis berita atau pawartos. Berdasarkan hasil observasi ditemukan berbagai kesulitan mahasiswa dalam mirengaken pawartos, antara lain: mahasiswa kesulitan dalam memahami isi berita, banyak kosakata yang tidak dipahami khususnya yang berbahasa krama, dan mahasiswa memerlukan media untuk belajar mandiri mengenai berita. Berbagai permasalahan tersebut menunjukkan perlunya dikembangkan media pembelajaran interaktif untuk menyimak berita atau mirengaken pawartos dalam mata kuliah Mirengaken Basa Jawi. Hal ini dapat ditempuh dengan mengembangkan media mirengaken pawartos dalam aplikasi adobe flash.
Tahapan desain dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan. Pertama, tahapan mencermati kurikulum untuk menetapkan kompetensi dasar dan merumuskan indikator pembelajaran. Kompetensi dasar dalam penelitian ini, yaitu: mahasiswa dapat memahami dan menganalisis berita. Adapun indikator pembelajarannya yaitu: mahasiswa dapat menjelaskan analisis berita menggunakan teknik 5W+1H; menganalisis berita menggunakan teknik 5W+1H; dan menganalisis penggunaan diksi dalam berita. Kedua, tahap pengumpulan referensi materi menyimak pawartos lengkap dengan evaluasinya. Ketiga, berbagai referensi materi yang terkumpul selanjutnya disusun dalam bentuk flow chart. Keempat, tahap pembuatan story board yaitu: menyusun rancangan media dalam naskah sebagai panduan aplikasi media ke dalam adobe flash.
Konsep rancangan media pembelajaran ini dipilih dalam bentuk visual video didasarkan bahwa pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran visual akan memberikan pengaruh positif dibandingkan jika hanya berbasis audio. Pandangan Edgar Dale (melalui Arsyad, 2009: 13) pemerolehan hasil pembelajaran melalui stimulus pada indra pendengaran hanya mencapai 13%, sedangkan jika stimulus dihadirkan pada indera pendengaran dan penglihatan dapat mencapai 75%. Hal inilah yang menjadi dasar pengembangan media pembelajaran menyimak pawartos ini dihadirkan dalam bentuk video audio visual. Media pembelajaran audio visual dalam aplikasi adobe flash ini dapat mempermudah pemahaman materi menyimak dalam bahasa Jawa.
Tahap pengembangan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengaplikasikan story board ke dalam program adobe flash. Setelah pemrograman selesai tahap selanjutnya, yaitu validasi ahli. Adapun validator ahli dalam penelitian ini adalah Dr. Mulyana, M. Hum. Hasil validasi mendapatkan beberapa saran sebagai dasar merevisi media sebelum dilakukan ujicoba. Revisi tersebut dilakukan dengan penambahan indikator, materi, dan latihan. Selain itu tampilan layout perlu dipercerah agar lebih menarik. Setelah dilakukan revisi maka media siap digunakan untuk ujicoba.
Tahap implementasi, yaitu tahap penerapan ujicoba media dalam pembelajaran mirengaken pawartos. Ujicoba dilakukan dalam kuliah Mirengaken Basa Jawi mahasiswa bahasa Jawa semester 2 kelas B. Adapun jumlah mahasiswa kelas tersebut sebanyak 22 mahasiswa. Berdasarkan hasil ujicoba, pada saat mahasiswa menyimak berita pada materi tradisi Wiwit, mahasiswa dapat memahami nilai-nilai simbolik yang dihadirkan melalui sesaji dalam upacara tersebut. Perolehan rata-rata hasil belajar mahasiswa dalam pembelajaran menyimak tersebut mencapai 8,86. Adapun nilai-nilai simbolik yang terkandung dalam upacara tradisi Wiwit tersebut mengatur kehidupan manusia dalam tiga tatanan yaitu:
![]() |
| Frifaarroyan.blogspot.com |
1. Tata hubungan manusia dengan Tuhan mengarahkan agar manusia selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan selalu berserah dan memohon keberhasilan atas usaha yang telah dilakukannya kepada Tuhan. Hal ini disimbolkan dalam sesaji ingkung ayam jago.
![]() |
| sumber: TVRI Yogyakarta |
2) Tata hubungan manusia dengan sesamanya mengajarkan bahwa manusia selalu berusaha agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Hal ini disimbolkan dalam sesaji jajan pasar, buah-buahan dan lumbungan.
![]() |
| Sumber: TVRI Yogyakarta |
3. Tata hubungan manusia dengan alam mengarahkan manusia untuk mengolah tanah pertanian agar selalu terjaga kesuburannya sebagai sumber kehidupan manusia. Hal ini dilambangkan dalam sesaji sekul megana dan gudangan.
Tahap selanjutnya setelah ujicoba media yaitu tahap evaluasi. Tahapan mengevaluasi media didasarkan pada hasil ujicoba dan selanjutnya dilakukan revisi guna perbaikan media. Hasil ujicoba menunjukkan adanya revisi, yaitu: penambahan glosarium khususnya kosakata dalam pawartos tradhisi Wiwit. Setelah dilakukan revisi maka media pembelajaran mirengaken pawartos diproduksi dalam bentuk CD pembelajaran.
B. Kualitas Media Mirengaken Pawartos
Kualitas media yang dikembangkan dalam penelitian ini ditinjau dari aspek materi dan tampilan media. Penilaian kualitas media dilakukan oleh ahli dalam tahap validasi ahli dan penilaian mahasiswa sebagai pengguna. Adapun rincian hasil rekapan penilaian kualitas media adalah sebagai berikut.
Tabel 1: Rekapan Penilaian Kualitas Media
No
|
Keterangan
|
Penilaian (%)
| |
Ahli
|
Mahasiswa
| ||
1
|
Kualitas materi
|
76 (baik)
|
77,6 (baik)
|
2
|
Kualitas tampilan media
|
78 (baik)
|
79 (baik)
|
Berdasarkan tabel tersebut maka dapat diketahui bahwa kualitas media pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki kategori baik. Hal tersebut didukung oleh hasil penilaian ahli terhadap kualitas materi sebesar 76%, dan pada aspek kualitas tampilan media sebesar 78%. Penilaian ahli pada kedua aspek tersebut memiliki kategori baik. Penilaian mahasiswa terhadap kualitas media pada aspek materi mendapatkan 77,6 %, dan pada aspek kualitas tampilan media sebesar 79%. Penilaian mahasiswa pada kedua aspek tersebut mendapatkan kategori baik.
Kualitas materi dalam penilaian media ini meliputi 10 aspek. Adapun rincian 10 aspek penilaian kualitas materi oleh ahli media dan mahasiswa dapat dicermati pada tabel sebagai berikut.
Tabel 2: Rekap Penilaian Ahli Media pada Aspek Materi
No
|
Indikator
|
Skor
|
Kategori
|
1.
|
Kesesuaian materi dengan indikator
|
3
|
Cukup
|
2.
|
Kejelasan penyajian materi
|
3
|
Cukup
|
3.
|
Sistematika penyajian materi
|
4
|
Baik
|
4.
|
Kesesuaian pemberian contoh materi
|
4
|
Baik
|
5.
|
Efisiensi teks
|
5
|
Sangat baik
|
6.
|
Kecukupan pemberian latihan
|
3
|
Cukup
|
7.
|
Kesesuaian soal dengan indikator
|
3
|
Cukup
|
8.
|
Kemudahan bahasa untuk dipahami
|
4
|
Baik
|
9.
|
Penyajian gambar mendukung materi
|
4
|
Baik
|
10.
|
Ketepatan penggunaan istilah
|
4
|
Baik
|
Total
|
37
| ||
Skor ideal
|
50
| ||
% penilaian = (skor yang diperoleh /skor ideal)x100%
|
76%
|
Baik
|
Berdasarkan tabel tersebut terdapat beberapa penilaian yang berkategori cukup. Hal ini menunjukkan adanya proses revisi pada aspek tersebut. Saran untuk perbaikan pada beberapa aspek tersebut meliputi: penambahan indikator, materi, dan latihan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Jawa dalam pawartos.
Penilaian media pada aspek materi yang dilakukan mahasiswa mendapatkan persentase penilaian sebesar 77,6%. Adapun rincian penilaian setiap aspek dapat dicermati pada tabel sebagai berikut.
Tabel 3: Rekap Penilaian Mahasiswa pada Aspek Materi
No
|
Indikator
|
Penilaian %
|
Kategori
|
1.
|
Kesesuaian materi dengan indikator
|
86
|
Sangat baik
|
2.
|
Kejelasan penyajian materi
|
84
|
Sangat baik
|
3.
|
Sistematika penyajian materi
|
78
|
Baik
|
4.
|
Kesesuaian pemberian contoh materi
|
82
|
Sangat baik
|
5.
|
Efisiensi teks
|
78
|
Baik
|
6.
|
Kecukupan pemberian latihan
|
73
|
Baik
|
7.
|
Kesesuaian soal dengan indikator
|
79
|
Baik
|
8.
|
Kemudahan bahasa untuk dipahami
|
78
|
Baik
|
9.
|
Penyajian gambar mendukung materi
|
68
|
Baik
|
10.
|
Ketepatan penggunaan istilah
|
72
|
Baik
|
Berdasarkan tabel tersebut hampir semua aspek mendapatkan kategori baik. Beberapa revisi yang telah dilakukan sebelumnya memberikan dampak perbaikan pada aspek: 1) kesesuaian materi dengan indikator, 2) kejelasan penyajian materi, dan 3) kesesuaian pemberian contoh. Ketiga aspek tersebut mendapatkan kategori sangat baik. Hasil pengamatan selama ujicoba memberikan beberapa revisi, yaitu: 1) penambahan glosarium, 2) penambahan gambar dan 3) pemberian batas waktu dalam menyelesaikan soal gladhen.
Kualitas media ditinjau dari aspek tampilan dalam penelitian ini juga dinilai oleh ahli dalam tahap validasi dan mahasiswa sebagai pengguna. Adapun rekapan penilaian kualitas media pada aspek tampilan media dapat dicermati pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4: Rekap Penilaian Tampilan Media oleh Ahli Media
No
|
Indikator
|
Skor
|
Kategori
|
1.
|
Kejelasan petunjuk penggunaan program
|
4
|
Baik
|
2.
|
Ketepatan pemilihan warna
|
3
|
Cukup
|
3.
|
Ketepatan penempatan tombol (button)
|
4
|
Baik
|
4.
|
Respon terhadap peserta didik
|
4
|
Baik
|
5.
|
Sajian animasi
|
4
|
baik
|
6.
|
Daya dukung musik
|
4
|
Baik
|
7.
|
Efisiensi layar
|
4
|
Baik
|
8.
|
Kejelasan suara
|
4
|
Baik
|
9.
|
Kemenarikan media
|
4
|
Baik
|
10.
|
Kemudahan penggunaan media
|
4
|
Baik
|
Total
|
39
| ||
Skor ideal
|
50
| ||
% penilaian = (skor yang diperoleh /skor ideal)x100%
|
78%
|
Baik
|
Berdasarkan rekapan hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas media yang dikembangkan dalam penelitian ini termasuk dalam kategori baik dengan prosentase penilaian 78%. Adapun saran untuk perbaikan media ini pada aspek tampilan media, yaitu: tampilan media khususnya layout dipercerah, warna terlalu banyak yang redup, perlu ditambah warna-warna yang cerah.
Selain penilaian oleh ahli, kualitas tampilan media juga dinilai oleh mahasiswa sebagai pengguna. Adapun hasil penilaiannya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 5: Rekap Penilaian Mahasiswa pada Aspek Tampilan Media
No
|
Indikator
|
Penilaian (%)
|
Kategori
|
1.
|
Kejelasan petunjuk penggunaan program
|
87
|
Sangat baik
|
2.
|
Ketepatan pemilihan warna
|
75
|
baik
|
3.
|
Ketepatan penempatan tombol (button)
|
79
|
Baik
|
4.
|
Respon terhadap peserta didik
|
77
|
Baik
|
5.
|
Sajian animasi
|
75
|
Baik
|
6.
|
Daya dukung musik
|
75
|
Baik
|
7.
|
Efisiensi layar
|
75
|
Baik
|
8.
|
Kejelasan suara
|
88
|
Sangat baik
|
9.
|
Kemenarikan media
|
76
|
Baik
|
10.
|
Kemudahan penggunaan media
|
81
|
Sangat baik
|
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kualitas tampilan media hampir semua berkategori baik. Beberapa aspek yang menonjol yaitu kejelasan petunjuk penggunaan program, kejelasan suara, dan kemudahan penggunaan media. Dengan demikian media ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran interaktif. Mahasiswa dapat menggunakan media ini untuk belajar secara mandiri.
Efektifitas media pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini diuji dengan uji t. Uji t dilakukan dengan cara membandingkan skor pretes dan postes. Adapun hasil uji t pretes-postes dalam penelitian ini yaitu -10.559 dengan signifikasi (0,00) artinya signifikasi berada dibawah 5%. Dengan demikian hipotesis adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pretes dan postes pada pembelajaran mirengaken pawartos menggunakan media interaktif adobe flash diterima.
V. SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pengembangan media mirengaken pawartos dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) analisis dilakukan dengan mencermati kurikulum dan observasi lapangan; 2) desain meliputi: menetapkan kompetensi, merumuskan indikator, mengumpulkan referensi materi berita, merancang evaluasi, menyusun flow chart dan story board; 3) development yaitu mengembangkan story board ke dalam aplikasi program adobe flash dan dilanjutkan dengan validasi ahli serta revisi; 4)implementasi media dilakukan dengan ujicoba media dalam pembelajaran mirengaken pawartos; dan 5) evaluasi dalam hal ini hasil ujicoba digunakan sebagai bahan revisi untuk memperbaiki media. Setelah direvisi tahap selanjutnya media diproduksi.
Berdasarkan hasil penilaian ahli dan mahasiswa kualitas media yang dikembangkan dalam penelitian berkategori baik. Hal ini juga didukung hasil uji efektifitas media yang diukur dengan uji t menunjukkan bahwa media yang dikembangkan efektif dan signifikan untuk pembelajaran nyemak pawartos. Dengan demikian media ini dapat digunakan untuk membantu mahasiswa memahami literasi budaya yang terkandung dalam tradisi Wiwit. Literasi tersebut mengarahkan mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan mengolah kearifan lokal budaya Jawa yang dihadirkan secara simbolik dalam sesaji upacara tradisi Wiwit.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press
Depdiknas. 2008. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Madcoms. 2009. Panduan Lengkap Adobe Flash CS3 Profesional. Yogyakarta: Andi
_______. 2009. Student Book series: Adobe Flash CS4 Profesional. Yogyakarta: Andi
Mardiwarsito, L. 1981. Kamus Jawa Kuna- Indonesia. Flores: Nusa Indah
Mayer, R. 2009. Multimedia Learning. New York: Cambridge University Press
Mujid, Ahmad. 2016. http://www.wikipendidikan.com/2016/03/pengertian-definisi-makna-literasi.html
Mulyani, S. & Nurhidayati. 2009. Diktat Komprehensi Lisan.Yogyakarta: FBS UNY
Mulyatiningsih. 2011. Riset Terapan. Yogyakarta: UNY Press
Nasution. 2010. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Poerwadarminto, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: Groningen
Pramono. A. 2006. Macromedia Flash. Yogyakarta: Andi
Sadiman, dkk. 2007. Media Pedidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sunyoto, A. 2010. Adobe Flash + XML. Yogyakarta: Andi
TVRI stasiun Yogyakarta. 2014. Pawartos Tetanen Lengkeng. Yogyakarta: TVRI-Yogyakarta
_______ . 2014. Pawartos Tradhisi Wiwit. Yogyakarta: TVRI-Yogyakarta




Masa depan Bahasa Jawa terlihat sangat cerah dengan adanyam media inovatif seperti yang dikembangkan penulis. ^^
BalasHapusTerimakasih suportnya Mbak Cantik
BalasHapus